<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>Repository Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://hdl.handle.net/123456789/455" />
  <subtitle />
  <id>http://hdl.handle.net/123456789/455</id>
  <updated>2013-05-14T07:51:48Z</updated>
  <dc:date>2013-05-14T07:51:48Z</dc:date>
  <entry>
    <title>PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI MOUNTAINEERING PADA MOUNTAINEER (PENDAKI GUNUNG) WANITA</title>
    <link rel="alternate" href="http://hdl.handle.net/123456789/5359" />
    <author>
      <name>Meirliana Furi Rahayu, Sofura</name>
    </author>
    <id>http://hdl.handle.net/123456789/5359</id>
    <updated>2012-12-15T05:24:04Z</updated>
    <published>2012-12-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI MOUNTAINEERING PADA MOUNTAINEER (PENDAKI GUNUNG) WANITA
Authors: Meirliana Furi Rahayu, Sofura
Abstract: Mountaineering adalah suatu teknik gabungan pendakian yang&#xD;
memerlukan teknik dan alat-alat khusus serta sebutan untuk orang yang&#xD;
melakukan mountaineering adalah mountaineer. Mountaineering seringkali&#xD;
identik dengan dunia pria yang dikaitkan dengan karakteristik kuat dan berani.&#xD;
Padahal hobi mendaki gunung atau mountaineering juga dapat dilakukan oleh&#xD;
wanita. Menurut Badil (2009) pada umumnya yang mendorong seseorang untuk&#xD;
melakukan mountaineering adalah faktor psikologis, kepuasan batin saat&#xD;
mencapai puncak bersama tim, setelah menghadapi berbagai rintangan, dan&#xD;
merasakan lebih mendalam ciptaan Tuhan atas alam. Penelitian ini bertujuan&#xD;
untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap motivasi berprestasi&#xD;
mountaineering pada mountaineer (pendaki gunung) wanita. Variabel bebas&#xD;
dalam penelitian ini adalah dukungan sosial, sedangkan variabel terikat adalah&#xD;
motivasi berprestasi mountaineering. Penelitian ini melibatkan 60 orang&#xD;
mountaineer (pendaki gunung) wanita yang menjadi anggota dalam Mahasiswa&#xD;
Pencinta Alam (MAPALA) pada suatu Universitas, yang dipilih dengan teknik&#xD;
Snowball Sampling. Untuk skala dukungan sosial disusun berdasarkan bentuk-&#xD;
bentuk dukungan sosial dari Sarafino (1994). Untuk skala motivasi berprestasi&#xD;
mountaineering disusun berdasarkan karakteristik motivasi berprestasi oleh&#xD;
McClelland (dalam Mulianto, 2006). Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan&#xD;
dengan menggunakan uji Parametrik dengan teknik Pearson (1-Tailed), diketahui&#xD;
bahwa hasil koefisien korelasi sebesar 0,619 dengan taraf signifikansi sebesar&#xD;
0,000 (p &lt; 0,05). Dari hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa hipotesis&#xD;
dalam penelitian ini diterima. Hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial&#xD;
maka semakin tinggi pula motivasi berprestasi mountaineering terhadap&#xD;
mountaineer (pendaki gunung) wanita, dan semakin rendah dukungan sosial&#xD;
maka semakin rendah pula motivasi berprestasi mountaineering terhadap&#xD;
mountaineer (pendaki gunung) wanita.</summary>
    <dc:date>2012-12-15T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Citra Diri pada Remaja Putri yang Mengalami Kecenderungan Gangguan Body Dysmorphic</title>
    <link rel="alternate" href="http://hdl.handle.net/123456789/5348" />
    <author>
      <name>Fristy, Fristy</name>
    </author>
    <id>http://hdl.handle.net/123456789/5348</id>
    <updated>2012-12-15T05:19:25Z</updated>
    <published>2012-12-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Citra Diri pada Remaja Putri yang Mengalami Kecenderungan Gangguan Body Dysmorphic
Authors: Fristy, Fristy
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai citra diri remaja&#xD;
putri yang berkecenderungan gangguan Body Dysmorphic dan mengapa citra diri&#xD;
menyebabkan kecenderungan gangguan Body Dysmorphic. Peneliti menggunakan&#xD;
pendekatan gabungan (mixed method). Pertama, peneliti melakukan tahap I, yaitu&#xD;
penelitian kuantitatif menggunakan kuesioner gejala Body Dysmorphic Disorder&#xD;
(BDD) dengan 40 item berskala Guttman kepada 30 responden penelitian yang&#xD;
diambil dari SMAN 8 Bekasi dan Universitas Gunadarma. Pengambilan sampel&#xD;
menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian dianalisa menggunakan&#xD;
teknik analisis deskriptif dan sistem uji coba terpakai. Hasil penelitian menunjukan&#xD;
item valid mempunyai koefisien validitas pada kisaran 0,345 sampai 0,508 dengan&#xD;
satu item gugur, dan koefisien reliabilitas sebesar 0,771. Atas data tersebut,&#xD;
didapatkan satu responden dengan skor gejala BDD tertinggi yaitu 68 dari skor&#xD;
penuh yaitu 80. Responden dengan skor tertinggi akan dijadikan subjek penelitian.&#xD;
Selanjutnya peneliti melakukan tahap II, yaitu penelitian kualitatif dengan&#xD;
menggunakan wawancara semi terstruktur dan teknik observasi non partisipan. Hasil&#xD;
menunjukkan bahwa citra diri subjek adalah negatif. Hal tersebut dapat dilihat dari&#xD;
psikodinamika gangguan Body Dysmorphic subjek dan faktor-faktor yang&#xD;
menyebabkan Body Dysmorphic Disorder (BDD).</summary>
    <dc:date>2012-12-15T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>CITRA DIRI PADA PENDERITA SYRINGOMA</title>
    <link rel="alternate" href="http://hdl.handle.net/123456789/5345" />
    <author>
      <name>Marisi Margaretha Nababan, Sorta</name>
    </author>
    <id>http://hdl.handle.net/123456789/5345</id>
    <updated>2012-12-15T05:17:10Z</updated>
    <published>2012-12-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: CITRA DIRI PADA PENDERITA SYRINGOMA
Authors: Marisi Margaretha Nababan, Sorta
Abstract: Kulit terutama pada bagian wajah, sangat menjadi perhatian ketika&#xD;
seesorang menjalin komunikasi sosial dengan orang lain. Kekurangan pada&#xD;
kulit wajah terkadang membuat seseorang menjadi tidak percaya diri.&#xD;
Syringoma adalah tumor saluran keringat yang biasanya terdapat di sekitar&#xD;
kelopak mata dan pipi. Penderita Syringoma sering khawatir karena&#xD;
berpengaruh pada kecantikan wajah. Citra diri adalah cara seseorang&#xD;
individu memandang dirinya sendiri. Termasuk juga caranya memandang&#xD;
diri secara fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui&#xD;
bagaimana citra diri pada penderita Syringoma dan faktor – faktor yang&#xD;
berperan di dalam citra diri penderita Syringoma. Selain itu, penelitian ini&#xD;
juga bertujuan untuk memberikan pengertian lebih mengenai citra diri pada&#xD;
penderita Syringoma. Pada penelitian ini, penulis menggunakkan penelitian&#xD;
yang berbentuk studi kasus. Teknik wawancara yang dipakai adalah&#xD;
wawancara terstruktur. Subjek penelitian ini adalah seorang wanita yang&#xD;
memiliki penyakit Syringoma. Dari hasil penelitian ini, dapat dilihat bahwa&#xD;
subjek memiliki citra diri yang positif. Hal ini disimpulkan dari&#xD;
kepercayaan diri, ketegasan, kejujuran, produktifitas, dan sikap optimis&#xD;
subjek sehari – hari. Selain itu, faktor – faktor yang berperan penting dalam&#xD;
citra diri subjek adalah keluarga, tetangga, lingkungan tempat subjek&#xD;
beraktivitas, dan juga self-talk positif yang sering dilakukan subjek.</summary>
    <dc:date>2012-12-15T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kepuasan Pernikahan Pada Istri Yang Dipoligami (Studi Pada Istri Pertama)</title>
    <link rel="alternate" href="http://hdl.handle.net/123456789/3624" />
    <author>
      <name>Juliati, Juliati</name>
    </author>
    <author>
      <name>Putri, Dona Eka</name>
    </author>
    <id>http://hdl.handle.net/123456789/3624</id>
    <updated>2012-11-02T16:14:35Z</updated>
    <published>2012-11-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Kepuasan Pernikahan Pada Istri Yang Dipoligami (Studi Pada Istri Pertama)
Authors: Juliati, Juliati; Putri, Dona Eka
Abstract: Kepuasan pernikahan terjadi karena adanya kesesuaian antar peran diri dan&#xD;
pasangan yang mereka jalankan dalam pernikahan, jadi seseorang yang telah menikah akan&#xD;
dihadapkan oleh perubahan-perubahan peran yang telah ditentukan. Bila mampu berperan&#xD;
sesuai harapan atau ketentuan yang ada, maka tidak akan mengalami masalah. Sebuah&#xD;
perkawinan poligami akan lebih baik bila dilakukan oleh suami yang mampu bersikap adil&#xD;
dari sisi materi atau non materi seperti kasih sayang dan perhatian. Sehingga dapat&#xD;
memberikan manfaat bagi kehidupan perkawinannya kelak&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan pernikahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan pada istri yang dipoligami.&#xD;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini dua&#xD;
orang istri yang berstatus istri pertama. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini&#xD;
adalah menggunakan metode wawancara dan catatan lapangan&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek 1 memiliki kepuasan pernikahan, karena&#xD;
hubungansubjek dengan pasangan yang baik. Itu terlihat dari baiknya komunikasi antara&#xD;
subjek dengan pasangan dan tanggung jawab yang dilakukan sesuai dengan peran masing -masing. Akan tetapi pada kasus subjek 1 terdapat satu karakteristik yang tidak dapat&#xD;
dianalisis yaitu interaksi yang positif. Sedangkan subjek 2 tidak puas dengan pernikahannya,&#xD;
karena komunikasi antara subjek dan pasangan tidak baik. Subjek juga merasa bahwa&#xD;
pasangan subjek sudah tidak percaya lagi terhadap subjek dan pasangan juga kurang&#xD;
bertanggung jawab dalam melakukan perannya sebagai suami.&#xD;
Selain itu,subjek 1 merasakan adanya kepuasan dalam pernikahannya dipengaruhi&#xD;
oleh beberapa faktor, seperti subjek 1 merasa pasangan telah berlaku adil dalam membagi&#xD;
penghasilannya sehingga subjek sudah merasa puas, adanya kepuasan dalam hubungan&#xD;
seksual, pasangan juga sudah adil dalam membagi kasih sayangnya terhadap anak dan tidak&#xD;
ada perubahan sejak pasangan berpoligami. Pada subjek 2 merasa tidak ada kepuasan&#xD;
dalam pernikahannya karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, suami tidak adil dalam&#xD;
membagi penghasilannya terhadap subjek sehingga subjek merasa sangat tidak puas. Subjek&#xD;
2 juga merasa jarang saling berbagi dan tidak saling pengertian satu sama lain. Akan tetapi&#xD;
hingga saat ini, subjek 2 masih mencintai pasangannya. Subjek 2 juga merasa puas dengan&#xD;
hubungan seksualnya selama ini, meskipun tidak ada perubahan dari frekuensi atau kualitas&#xD;
sebelum atau sesudah subjek dipoligami. Hubungan suami subjek 2 dengan anak-anak&#xD;
sangat baik dan tidak mengalami peru bahan sama sekali.</summary>
    <dc:date>2012-11-02T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

