<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/449">
    <title>Repository Collection:</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/449</link>
    <description />
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/7032" />
        <rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/7031" />
        <rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/7030" />
        <rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/7029" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2013-06-18T20:46:03Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/7032">
    <title>Adaptasi Kawasan Konservasi  Sebagai Upaya Mengembalikan Identitas Kota</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/7032</link>
    <description>Title: Adaptasi Kawasan Konservasi  Sebagai Upaya Mengembalikan Identitas Kota
Authors: Rahman, Arief
Abstract: Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana proses adaptasi kawasan kota yang berbasiskan kawasan konservasi di pusat kota, dalam hal ini pusat kota Bandung, yakni kawasan jalan Braga, sehingga dapat dilihat  penyesuaian setting fisik kawasannya sebagai identitas kawasan kota, tidak hanya dilihat dari sisi fisik kotanya saja, tetapi juga dari sisi pengguna dan penentu kebijakan. Kota Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang telah melalui tahapan pembangunan dan memiliki sejumlah kawasan bersejarah, diantaranya adalah kawasan jalan Braga yang memiliki keunikan tersendiri, yakni sebuah poros jalan yang pada masa pembentukannya adalah merupakan jalan yang didalamnya berderet pertokoan kelas atas, pada perkembangannya kawasan jalan Braga ini sempat mengalami penurunan aktivitas kota serta kualitas lingkungan, tetapi dalam periode sepuluh tahun terakhir ini ada kecenderungan peningkatan aktivitas kota di kawasan ini serta adanya adaptasi sarana dan prasarana dari multi pihak untuk menjadikan kawasan ini menjadi kawasan konservasi yang bisa hidup kembali serta mengembalikan identitas kota seperti semula. Paradigma induktif digunakan dalam metode penelitian ini dengan pendekatan fenomenologi (berawal dari fenomena yang terjadi di lapangan). Teori dasar konservasi kota yang muncul hanya sebagai asumsi awal yang terkait dengan fenomena di lapangan yang telah diamati pada awal proses. Selanjutnya, kerangka dasar teori konservasi kota diformulasikan dalam membuat rancangan penelitian untuk pegangan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah di temukannya tema-tema dan konsep-konsep ruang kawasan yang menunjang proses adaptasi dari kawasan konservasi tersebut.</description>
    <dc:date>2012-10-13T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/7031">
    <title>REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/7031</link>
    <description>Title: REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA
Authors: Anggara, Harry; Dharma, Agus
Abstract: Bangunan bioskop Megaria merupakan salah satu peninggalan sejarah perkembangan arsitektur di tanah air. Bioskop yang dirancang oleh Han Groenewegen ini banyak berorientasi pada aliran De Stijl seperti tampak pada menara menjulang dengan permainan garis horisontal dan vertikal.&#xD;
Karena sejarahnya, bangunan ini termasuk Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi melalui SK Gubernur Jakarta No. 475/1993. Melalui proyek tugas akhir, kompleks Megaria akan direvitalisasi dengan perancangan yang komprehensif dengan tetap menjaga konservasi bangunan aslinya.</description>
    <dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/7030">
    <title>PEREMAJAAN PERMUKIMAN KUMUH DI DKI JAKARTA</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/7030</link>
    <description>Title: PEREMAJAAN PERMUKIMAN KUMUH DI DKI JAKARTA
Authors: Dharma, Agus
Abstract: Tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan strategi implementasi yang efektif dalam peremajaan permukiman kumuh di DKI Jakarta. Dari evaluasi kegagalan upaya pemerintah dalam peremajaan permukiman kumuh di Angke, Kemayoran dan Pulo Gadung disusun sebuah analisa multi tujuan (multi goal analysis) dengan pendekatan multidimensional yaitu dimensi ekonomi, sosial, budaya, teknis, dan planologis. Hasil analisa menunjukan bahwa peremajaan lingkungan kumuh&#xD;
menyangkut kesiapan lingkungan sosial dan kelembagaan masyarakat, pemecahan masalah&#xD;
lingkungan kumuh harus didasarkan atas kondisi setempat yang spesifik dan pendekatan yang bersifat partisipatif dari semua stake holder. Pola relokasi dan penataan permukiman kumuh dengan membangun rumah susun sederhana yang disewakan kepada penghuni lama lebih sesuai untuk kasus status tanah ilegal, lokasi kurang strategis, pekerjaan penduduk berpindah, dan daerah permukiman yang kecil. Pola Pembangunan rumah susun sederhana dan penghuni lama diberi ganti rugi yang cukup untuk membayar uang muka KPR rusun tersebut lebih sesuai untuk kasus status tanah legal, lokasi kurang strategis, pekerjaan penduduk tetap, dan daerah permukiman yang besar.&#xD;
Pola pelibatan peran swasta untuk pembebasan tanah dan pembangunan dari permukiman kumuh&#xD;
menjadi kawasan permukiman, pertokoan, dan perkantoran dengan sistem subsidi silang lebih sesuai untuk kasus status tanah legal, lokasi sangat strategis, pekerjaan penduduk tetap atau berpindah, dan daerah permukiman yang besar.</description>
    <dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/7029">
    <title>PENENTUAN PRIORITAS PROGRAM PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN IRIGASI DI NDONESIA</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/7029</link>
    <description>Title: PENENTUAN PRIORITAS PROGRAM PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN IRIGASI DI NDONESIA
Authors: Dharma Tohjiwa, Agus
Abstract: Penelitian ini bertujuan memberi arahan kebijakan pemerintah dalam penentuan prioritas program pengembangan kelembagaan dan pengelolaan irigasi di Indonesia. Propinsi yang menjadi obyek penelitian adalah 16 propinsi yang akan menerapkan PKPI (Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi). Metoda penelitian menggunakan pemodelan berdasarkan analisis multiatribut dengan kriteria SWOT. Penentuan nilai faktor SWOT didasarkan atas jawaban responden di propinsi tentang kondisi pengelolaan irigasi di daerah mereka. Penentukan bobot faktor SWOT didasarkan jawaban responden di Pusat yang diolah menggunakan prinsip Comparative Judgment (AHP). Hasil penelitian menunjukan bahwa propinsi Bali, NTB, Kal-Bar, dan Gorontalo sebaiknya menggunakan strategi Growth oriented. Propinsi Ba-bel, Kal-&#xD;
Teng, Kal-Tim, Sul-Teng, Mal-Ut, dan Papua sebaiknya menggunakan strategi Turn around.&#xD;
Propinsi Jambi, Sulut, Kal-Sel, dan Maluku sebaiknya menggunakan strategi Diversification,sedang propinsi Riau dan Bengkulu sebaiknya menggunakan strategi Defensive. Melalui matriks profil kompetitif diketahui urutan (ranking) dari 16 propinsi dimana propinsi NTB, Bali, Gorontalo, Sul-Teng, dan Kal-Bar menempati posisi 5 propinsi teratas.</description>
    <dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

