<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>Repository Collection:</title>
    <link>http://hdl.handle.net/123456789/438</link>
    <description />
    <pubDate>Wed, 15 May 2013 14:24:22 GMT</pubDate>
    <dc:date>2013-05-15T14:24:22Z</dc:date>
    <item>
      <title>Pemaafan Remaja yang Pernah Ditelantarkan oleh Ayahnya</title>
      <link>http://hdl.handle.net/123456789/3611</link>
      <description>Title: Pemaafan Remaja yang Pernah Ditelantarkan oleh Ayahnya
Authors: Desty S. Sianturi, Sari
Abstract: Permasalahan keuangan yang terjadi dengan orang tua seringkali malah membuat orang tua bertindak di luar perkiraan, salah satunya dengan cara menelantarkan anak-anaknya. Dalam hal ini subjek mengalami penelantaran secara physical, educational, emosional dan medical, yang pada akhi rnya membuat sang anak merasa kecewa dan benci terhadap orang tuanya sendiri karena anak terpaksa harus menanggung kebutuhannya sendiri, baik itu kebutuhan-kebutuhan fisik serta kebutuhan-kebutuhan psikisnya. Kebencian tersebut berujung kepada ketidakmampuan anak untuk memaafkan orang tuanya padahal bagaimana pun juga hubungan orang tua dan anak tidak mungkin diputuskan. Oleh karena itu pemaafan menjadi hal yang penting untuk membebaskan individu dari rasa marah dan keinginan untuk membalas dendam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tahap-tahap pemaafan pada remaja yang ditelantarkan ayahnya, gambaran pemaafan pada remaja yang ditelantarkan ayahnya, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pemaafan pada remaja yang pernah ditelantarkan oleh ayahnya serta dampak-dampak dari penelantaran ayah terhadap remaja. Subjek pada penelitian ini adalah remaja yang ditelantarkan ayahnya berusia 21 tahun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif (studi kasus) dengan metode pengambilan data observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, subjek sudah melewati keempat tahap-tahap pemaafan yaitu menyadari kemarahan, memutuskan untuk melakukan pemaafan, berusaha untuk melakukan pemaafan serta menemukan dan melepaskan diri dari penjara emosi. Selai n itu diketahui bahwa gambaran pemaafan subjek sudah baik dimana subjek telah melakukan pemaafan baik secara intrapsychic state maupun interpersonal act. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pemaafan pada subjek adalah faktor sosial   kognitif, karakteristik peristiwa yang menyakitkan, kualitas hubungan interpersonal, karakteristik kepribadian, jenis kelamin serta religiusitas. Sedangkan dampak penelantaran yang dialami subjek adalah masalah kognisi dan masalah perilaku.</description>
      <pubDate>Tue, 18 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/3611</guid>
      <dc:date>2012-09-18T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>KONTRIBUSI DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KEPUASAN HIDUP, AFEK MENYENANGKAN DAN AFEK TIDAK MENYENANGKAN PADA DEWASA MUDA YANG BELUM MENIKAH</title>
      <link>http://hdl.handle.net/123456789/3610</link>
      <description>Title: KONTRIBUSI DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KEPUASAN HIDUP, AFEK MENYENANGKAN DAN AFEK TIDAK MENYENANGKAN PADA DEWASA MUDA YANG BELUM MENIKAH
Authors: HUDA, NURUL
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menguji seberapa besar kontribusi dukungan sosial terhadap kepuasan hidup, afek menyenangkan dan afek tidak menyenangkan pada dewasa muda yang belum menikah. Sampel dalam penelitian ini yaitu 30 orang dewasa muda yang belum menikah baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan dan berusia 28 sampai 40 tahun Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling, dimana pengambilan data berdasarkan karakteristik tertentu. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner dari skala dukungan sosial, skala kepuasan hidup dan skala afek menyenangkan dan afek tidak menyenangkan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian pada dukungan sosial terhadap kepuasan hidup diperoleh F sebesar 11,723 dengan sign ifikansi 0,002 (P&lt; 0,01) dan R Square sebesar 0,295 ,hal ini berarti ada kontribusi dukungan sosial yang sangat signifikan terhadap kepuasan hidup pada dewasa muda yang belum menikah sebesar 29,5% dan sisanya sebesar 70,5% dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil penelitian pada dukungan sosial terhadap afek menyenangkan diperoleh F sebesar 22,073 dengan signifikansi 0,000 (P&lt; 0,01) dan R Square sebesar 0,441 ,hal ini berarti ada kontribusi dukungan sosial yang sangat signifikan terhadap afek menyenangkan pada dewasa muda yang belum menikah sebesar 44,1% dan sisanya sebesar 55,9% dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil penelitian pada dukungan sosial terhadap afek tidak menyenangkan diperoleh F sebesar 5,889 dengan sign ifikansi 0,022 (P&lt; 0,05) dan R Square sebesar 0,174 ,hal ini berarti ada kontribusi dukungan sosial yang sign ifikan terhadap afek tidak menyenangkan pada dewasa muda yang belum menikah sebesar 17,4% dan sisanya sebesar 82,6% dipengaruhi oleh faktor lain.</description>
      <pubDate>Tue, 18 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/3610</guid>
      <dc:date>2012-09-18T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Kontribusi Kemandirian terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) pada Remaja</title>
      <link>http://hdl.handle.net/123456789/3609</link>
      <description>Title: Kontribusi Kemandirian terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) pada Remaja
Authors: Widiantari, Femilia
Abstract: Remaja dihadapkan pada berbagai masalah, misalnya dalam hal pemilihan jurusan atau fakultas ketika masuk sekolah atau perguruan tinggi. Dalam hal ini masih banyak ditemui orang tua yang masih bersikeras untuk memasukkan putra atau putri mereka ke jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk kejurusan tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, kehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan drop out dari sekolah tersebut. Kemampuan pemecahan masalah (problem solving) sangat penting karena supaya masalah dapat cepat terselesaikan dengan baik sesuai tujuan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah, salah satunya yang sangat penting adalah kemandirian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kontribusi kemandirian terhadap pemecahan masalah (problem solving) pada remaja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan uji hipotesis dilakukan dengan teknik analisis regresi sederhana. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa atau siswi kelas II SMK Karya wijaya Kusuma. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur skala pemecahan masalah (problem solving) dan kemandirian pada remaja. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 100 subjek, yang terdiri dari 8 subjek pria dan 92 subjek wanita. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada kontribusi yang signifikan dari kemandirian terhadap kemampuan pemecahan masalah (problem solving) pada remaja. Peran kemandirian terhadap kemampuan pemecahan masalah (problem solving) pada remaja ditemukan 31,5%. Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa kemandirian pria lebih tinggi dibandingkan dengan kemandirian wanita.</description>
      <pubDate>Tue, 18 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/3609</guid>
      <dc:date>2012-09-18T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PERILAKU IKHLAS DAN PERANNYA TERHADAP PENERIMAAN DIRI PADA ANAK REMAJA YANG ORANG TUANYA BERPOLIGAMI</title>
      <link>http://hdl.handle.net/123456789/3591</link>
      <description>Title: PERILAKU IKHLAS DAN PERANNYA TERHADAP PENERIMAAN DIRI PADA ANAK REMAJA YANG ORANG TUANYA BERPOLIGAMI
Authors: Hakim Pratama, Andika
Abstract: Kondisi keluarga yang ayahnya berpoligami seringkali menimbulkan masalah bagi remaja dalam fase transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Pada saat terjadi kebingungan dan keraguan peran dimana remaja bukan lagi anak-anak dan juga bukan dewasa mereka dihadapkan pada masalah yang tidak sesuai dengan harapan, akibatnya terjadi konflik dan penolakan diri seperti stres, kecewa, dan perilaku negatif lain. Namun, dari beberapa studi kasus ada fenomena menarik, bahwa remaja yang orang tuanya berpoligami justru memiliki harga diri yang tinggi dan mampu menerima dan menjalani hidup dengan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keikhlasan dan penerimaan diri serta faktor-faktor yang mengatur pada remaja yang ayahnya berpoligami. Subjek penelitian ini adalah remaja yang memiliki orang tua yang berpoligami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggali informasi yang berkesinambungan mengenai subjek yang diteliti dengan konteks alamiah sehingga diperoleh gambaran mendalam tentang penerimaan diri, keikhlasan, dan dampaknya pada remaja yang ayahnya berpoligami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan keikhlasan dalam dirinya subjek dapat menerima keadaan seperti apa adanya tanpa terpengaruh tanggapan orang lain dan tetap dapat bersosialisasi dengan baik. Subjek pun terarahkan untuk memiliki penerimaan diri sehingga dirinya tidak merasa rendah diri dan memiliki kepercayaan pada diri sendiri. Dari sini dapat dilihat bahwa keikhlasan berdampak pada pencapaian penerimaan diri seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi subjek mencapai keikhlasan antara lain faktor religius, dukungan sosial, dukungan ibu subjek, dan kemandirian. Sedangkan, faktor-faktor yang mempengaruhi subjek mencapai penerimaan diri adalah pemahaman diri, harapan yang realistis, bebas dari hambatan sosial, perilaku sosial yang menyenangkan, konsep diri yang stabil, dan adanya kondisi emosi yang menyenangkan.</description>
      <pubDate>Tue, 18 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/3591</guid>
      <dc:date>2012-09-18T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

